Wednesday, June 07, 2006

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).. (QS. Ar-Rad 13:22)

Suatu hal yang sering membuat kita lelah adalah tersinggung. Biasanya, ketika tersinggung, kita akan sibuk membela diri, dan selanjutnya memikirkan kejelekan orang yang menyinggung tersebut. Hal yang paling bahaya ditimbulkan oleh perasaan tersinggung adalah habisnya amal-amal kita. Rasa tersinggung yang diperturutkan akan melahirkan kemarahan. Saat kita marah, kata kata jadi tidak terkendali, raut muka kusam, stress, orang lain tersakiti, suasana pun tidak nyaman.

Rasa tersinggung muncul karena kita menilai diri lebih dari kenyataan; merasa pintar, merasa berjasa, merasa dituakan, merasa sukses, dsb. Saat merasa diri lebih, kemudian ada yang menilai kurang, saat itulah rasa tersinggung akan muncul.

Bagaimana cara meredam ketersinggungan? Ada 5 cara yaitu :

Pertama, Jangan menilai lebih dengan diri kita. Hilangkan bahwa kita banyak jasa, paling pintar, berkedudukan, sehingga layak mendapat penghargaan. Semakin mengaku-ngaku, kita akan semakin sering tersinggung.

Kedua, belajar melupakan. Misal, kalau kita sarjana atau doktor maka lupakan kesarjanaan kita. Kalau kita seorang pimpinan, lupakan jabatan kita. Anggap semua itu amanah agar kita tidak tamak dengan penghargaan. Pandanglah diri sebagai hamba yang tidak memiliki apa-apa, selain yang dititipkan oleh Allah. Hal ini akan membuat hidup kita jadi lebih ringan. Makin ingin dihargai, makin ingin dipuji, dan makin ingin dihormati maka akan sering sakit hati.

Ketiga, sikapi perlakuan orang lain dengan sikap terbaik. Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Kita hanya bisa memaksa diri untuk menyikapi perlakuan tersebut dengan sikap terbaik. Semua yang dilakukan orang lain, hakikatnya terjadi karena izin Allah. Anggap semua itu sebagai episode yang harus kita jalani dalam hidup.

Keempat, berempati atau melihat sesuatu tidak dari sisi kita saja. Saat kita tersinggung, carilah seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Kita membuat alasan ini adalah untuk memaklumi bukan untuk membenarkan kesalahan. Tujuannya agar kita bisa mengendalikan diri.

Kelima, jadilah episode disakiti adalah episode peningkatan kualitas diri. Penghinaan, kritikan, ejekan adalah kesempatan bagi kita untuk mengamalkan sifat mulia, yaitu memaafkan orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan, bukan membalas dengan cercaan dan hinaan dari mulut kita.. Wallahua’lam bish-shawab..

By : KH. Abdullah Gymnastiar